memento mori

June 29, 2005

Mengintip Seksualitas Serat Centhini …

Filed under: Umum

Seperti dalam tembang ke-81, yang diawali dengan kalimat, “...di haluan ranjang, Tambangraras membiarkan kaki telanjangnya terbuka dan berkata…oh, apiku!, lihatlah betapa dahaga daku akan ilmu Kakanda, tubuhku bagai tanah kering merekah, terbelah. Turun hujan pertama, basah kuyup dia, mabuk air…”

Bicara soal seks dan seksualitas, mungkin lebih mengenal Kama Sutra dari India daripada Serat Centhini, karya sástra Jawa kuno yang dirilis di awal abad ke-19. Padahal “manual” versi lokal ini dipercaya jauh lebih lengkap dan “menantang”.

kamasutra

Tak ada yang bisa memungkiri, urusan seks selalu saja menarik. Entah dengan bisik-bisik di antara kaum lelaki di warung kopi, atau di antara kaum perempuan di sela-sela arisan ibu-ibu se-RT. Kadang juga dibicarakan secara terbuka tapi terbatas, seperti di ruang seminar atau kesempatan formal lainnya.

Seks dan seksualitas, dalam pengertian sempit maupun luas, merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Ia bagian dari naluri instingtif yang paling dasar. Tak heran kalau banyak upaya dilakukan untuk mempelajari, menganalisis, menyusun manual (panduan), atau mengungkapkannya lewat karya sastra maupun karya tulis lainnya sejak dahulu kala.

Beberapa manual kuno yang pernah ada, bisa kita sebut misalnya Ars Amatoria (The Art of Love) karya penyair Romawi, Publius Ovidius Naso (43 SM - 17 M). Atau Kama Sutra karya Vatsyayana dari India, yang ditaksir hidup di zaman Gupta (sekitar abad ke 1 – 6 M). Keduanya, bukan melihat seks sebagai subjek penelitian medis dan ilmiah, melainkan sebagai sex manual.

Di akhir abad ke- 19 dan awal abad ke-20, neurolog dan pakar psikoanalisis asal Austria, Sigmund Freud (1856 – 1939), mengembangkan sebuah teori tentang seksualitas yang didasarkan pada studinya terhadap para kliennya.

Nun jauh di sana, di tanah JaWa pada awal abad ke-19 muncul pula sebuah karya sastra yang terkenal hingga kini, yaitu Serat Centhini (nama resminya Suluk Tembangraras). Serat ini digubah pada sekitar 1815 oleh tiga orang pujangga istana Kraton Surakarta, yaitu Yasadipura 11, Ranggasutrasna, dan R. Ng. Sastradipura (Haji Ahmad Ilhar) atas perintah K.G.P.A.A. Amengkunegara II atau Sinuhun Paku Buwana V.

Serat Centhini yang terdiri atas 722 tembang (lagu Jawa) itu antara lain memang bicara soal seks dan seksualitas. Justru karena itulah serat ini menjadi termasyhur, bahkan di kalangan para pakar dunia.

Seorang kontributor sebuah surat kabar Prancis, Elizabeth D. Inandiak, misalnya, telah menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis dengan judul Les Chants de l’ile a dormir debout le Livre de Centhini (2002).

Blak-blakan

  • Meski kebudayaan Jawa di masa kejayaan keraton bersifat represif-feodalistik, demikian tulis Otto Sukatno CR dalam Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa (Bentang, 2002), dalam bidang seksual ternyata sangat jauh dari apa yang kita bayangkan.

Masalah seksualitas muncul dalam ekspresi seni, terutama sastra dan tari. Dalam Serat Centhini, misalnya, masalah seksual ternyata menjadi tema sentral yang diungkap secara verbal dan terbuka, tanpa tedeng aling-aling. “Ini sangat berlawanan dengan etika sosial Jawa yang bersifat puritan dan ortodoks,” tulis Sukatno.

Masalah seksual dalam serat itu diungkapkan dalam berbagai versi dan kasus. “Misalnya, menyangkut masalah pengertian, sifat, kedudukan dan fungsinya, etika dan tata cara bermain seks, gaya persetubuhan, dan lain-lain,” ungkap Sukatno. Bahkan seks juga dibicarakan dalam kaitannya dengan penikmatan hidup atau pelampiasan hasrat hedonisme (sebuah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kenikmatan adalah kebaikan tertinggi atau satu-satunya kebaikan dalam kehidupan).

Sukatno memberi contoh, dalam Centhini II (Pupuh Asmaradana) diuraikan dengan gamblang soal “ulah asmara” yang berhubungan dengan lokasi genital yang sensitif dalam kaitannya dengan permainan seks. Misalnya, cara membuka atau mempercepat orgasme bagi perempuan, serta mencegah agar lelaki tidak cepat ejakulasi.

Lalu dalam Centhini IV (Pupuh Balabak) diuraikan secara blak-blakan bagaimana pratingkahing cumbana (gaya persetubuhan) serta sifat-sifat perempuan dan bagaimana cara membangkitkan nafsu asmaranya.

Terungkap juga ternyata perempuan tidak selamanya bersikap lugu, pasif dalam masalah seks sebagaimana stereotipe pandangan Jawa yang selama ini kita terima. Mereka juga memiliki kebebasan yang sama dalam mengungkapkan pengalaman seksualnya. Padahal mereka selalu digambarkan pasrah, nrima kepada lelaki.

Hal itu tampak dalam Centhini V (Dhandhanggula). Di ruang belakang di rumah pengantin perempuan pada malam menjelang hari H perkawinan antara Syekh Amongraga dan Nike Tembangraras, para perempuan tua-muda sedang duduk-duduk sambil ngobrol. Ada yang membicarakan pengalamannya dinikahi lelaki berkali-kali, pengalaman malam pertama, serta masalah-masalah seksual lainnya yang membuat mereka tertawa cekikikan.

Salah satu percakapan itu misalnya seperti ini, “Nyai Tengah menjawab sambil bertanya, Benar dugaanku, Ni Daya, dia memang sangat kesulitan, napasnya tersengal. Saya batuk saja, eh lepas Mak bul mudah sekali lepasnya. Tak pernah kukuh di tempatnya. Susahnya sangat terasa, karena meski besar seakan mati.” Disambut dengan tawa cekikikan.

Tipe Perempuan

  • Seperti diungkap oleh Franz Magnis Suseno dalam Etika Jawa, yang dikutip Sukatno, adalah fakta bahwa hubungan seksual dalam masyarakat Jawa hanya diizinkan dalam rangka perkawinan.

Masyarakat Jawa tidak mengenal masalah seksual sebagai wahana pelampiasan nafsu hedonistik, penikmatan terhadap hidup. Namun, pada kenyataannya tidaklah demikian. “Adanya sistem budaya katuranggan jelas merupakan penyangkalan terhadap hal itu,” ungkap Sukatno.

Dalam sejumlah karya sastra Jawa maupun karya tulis lainnya, seperti primbon, soal katuranggan banyak diungkapkan, termasuk dalam Serat Centhini. Dalam kaitannya dengan perempuan, katuranggan dapat diartikan sebagai watak, sifat, atau tanda-tanda berdasarkan penampakan lahiriahnya.

Dalam budaya katuranggan, terdapat beberapa ciri perempuan yang menjadi idealitas lelaki untuk dijadikan istri. Tipe-tipe perempuan demikian, di antaranya disebut guntur madu, merica pecah, tasik madu, sri tumurun, puspa megar, surya surup, menjangan ketawan, amurwa tarung, atau mutyara.

Sebagai gambaran, perempuan bertipe surya sumurup itu perempuan yang memiliki dua lapis bibir yang berwarna merah jambu. Sorot matanya kebiru-biruan. Ada sinom (rambut yang tumbuh di dahi) yang menggumpal. Kedua alisnya nanggal sepisan (laksana bulan sabit). Perempuan seperti ini menjadi idaman kaum lelaki karena memiliki kesetiaan tak diragukan lagi. Lebih dari itu, ungkap Sukatno, ia tipe perempuan yang serasi dalam bermain asmara, sehingga dapat mencapai derajat marlupa (orgasme) bersama-sama.

Ekspresi budaya katuranggan ini juga terungkap, misalnya dalam Kitab Primbon Lumanakim Adammakna. Disebutkan, seperti Sukatno, ciri perempuan yang menggairahkan secara seksual antara lain, bertubuh kecil, wajahnya merah bersemu biru manis, rambut hitam panjang, sinom menggumpal. Atau, bertubuh kecil, pandangan dan wajahnya nguwung (agak melengkung), kulit kuning bersemu hijau, sinom menggumpal. Atau, bertubuh tinggi langsing, badan mbambang (padat berisi), roman mukanya galak, dan rambutnya panjang. Masih banyak lagi ciri perempuan menggairahkan lainnya.

Seperti diungkap Sukatno, tentu saja tidak semua tipe perempuan cocok dengan tipe ideal seperti itu. Masih ada tipe-tipe lain yang merupakan tipe campuran dari sebagian atau keseluruhan wacana keluruhan tiap-tiap tipenya. Memang rumit dan kompleks, karena seks, tidak bisa dinilai hanya dari segi penampilan lahiriahnya semata.

Jamu dan tatakarama

  • Ritualisasi seksual juga diungkapkan dalam Serat Centhini, termasuk soal tata krama dalam melakukan hubungan seksual antarsuami-istri.

Dalam berhubungan, misalnya, harus empan papan. Maksudnya, mengetahui situasi, tempat, dan keadaan, tidak tergesa-gesa, dan juga merupakan keinginan bersama.

Selain mendasarkan diri pada tata krama menurut budaya Jawa, tata krama ini juga mendasarkan diri pada hadis Nabi Muhammad SAW. Misalnya, sebelum melakukan hubungan seksual, seyogianya mandi terlebih dahulu. Setelah itu berdandan dan memakai wewangian. Sebelum mulai, berdoa lebih dulu dengan mengucapkan syahadat.

Masyarakat Jawa juga mengenal kalender seksual. “Ini berkaitan dengan masalah rasa perempuan, yang berhubungan dengan organ genital seksualnya. Satu asumsi bahwa setiap hari organ genital seksual yang sensitif pada perempuan selalu berpindah tempat, sesuai dengan tinggi rendahnya Bulan—ini berdasar pada kalender Jawa. Dengan mendasarkan pada kalender seksual, pasangan dapat mencapai puncak kepuasan secara bersama-sama,” tulis Sukatno.

Selain diungkap mengenai tata cara, etika, dan ritualisasi, dalam Serat Centhini II (Pupuh Asmaradana) diulas pula bentuk-bentuk serta pose hubungan seksual yang seharusnya dilakukan. Semua itu dimaksudkan agar pasangan dapat mencapai kepuasan bersama-sama.

“Hubungan seksual tidak hanya sekadar pemuasan nafsu lelaki maupun perempuan, tetapi juga sebagai bentuk ungkapan perasaan cinta kasih, proses prokreasi, dan seks sekaligus sebagai wahana ibadah,” ungkap Sukatno.

Dalam Serat Centhini IV (Pupuh Balabak) dijelaskan dengan gamblang posisi berhubungan seksual sebagaimana ajaran Jawa. Dalam melakukan penetrasi, misalnya, harus tetap pula melihat tipe perempuan pasangannya. Maka kemudian ada gaya kadya galak sawer (patukannya laksana ular galak); lir ngaras gandane sekar (seperti meraba baunya bunga); lir bremana ngisep sekar (laksana kumbang mengisap madu); lir lumaksana pinggire jurang (ibarat berada di tepi jurang); baita layar anjog rumambaka (seperti kapal layar turun ke tengah laut) dan sebagainya.

Dalam masyarakat Jawa lalu dikenal pula berbagai resep jalu usada (pengobatan seksual) agar lelaki jadi perkasa. Misalnya, untuk mencegah agar air mani tidak encer sehingga dapat memperoleh keturunan, seperti dijumpai dalam Serat Centhini VII (Pupuh Dhandhanggula). Resepnya berupa merica sunti dan cabe wungkuk tujuh buah, garam lanang, arang kayu jati, gula aren seperempat. Semua bahan itu dipipis hingga lembut di tengah halaman pada saat siang hari. Sesudah itu dibentuk seperti kapsul.

Jamu berbentuk mirip kapsul itu ditelan sambil membaca mantra, “Sang dewa senjata akas-akas, kurang bagaluwih akase, kurang baga akukuh, ora ana patine.” Enggak ada matinye! (intisari)

A Woman’s Reflection on Leading Prayer

Filed under: Serius

A Woman’s Reflection on Leading Prayer
by Yasmin Mogahed
(Friday 25 March 2005)

“Given my privilege as a woman, I only degrade myself by trying to be something I’m not—and in all honesty—don’t want to be: a man. As women, we will never reach true liberation until we stop trying to mimic men, and value the beauty in our own God-given distinctiveness.”

On March 18, 2005 Amina Wadud led the first female-led Jumuah (Friday) prayer. On that day women took a huge step towards being more like men. But, did we come closer to actualizing our God-given liberation?

I don’t think so.

aminah

What we so often forget is that God has honored the woman by giving her value in relation to God—not in relation to men. But as western feminism erases God from the scene, there is no standard left—but men. As a result the western feminist is forced to find her value in relation to a man. And in so doing she has accepted a faulty assumption. She has accepted that man is the standard, and thus a woman can never be a full human being until she becomes just like a man—the standard.

When a man cut his hair short, she wanted to cut her hair short. When a man joined the army, she wanted to join the army. She wanted these things for no other reason than because the “standard” had it.

What she didn’t recognize was that God dignifies both men and women in their distinctiveness—not their sameness. And on March 18, Muslim women made the very same mistake.

For 1400 years there has been a consensus of the scholars that men are to lead prayer. As a Muslim woman, why does this matter? The one who leads prayer is not spiritually superior in any way. Something is not better just because a man does it. And leading prayer is not better, just because it’s leading. Had it been the role of women or had it been more divine, why wouldn’t the Prophet have asked Ayesha or Khadija, or Fatima—the greatest women of all time—to lead? These women were promised heaven—and yet they never lead prayer.

But now for the first time in 1400 years, we look at a man leading prayer and we think, “That’s not fair.” We think so although God has given no special privilege to the one who leads. The imam is no higher in the eyes of God than the one who prays behind.

On the other hand, only a woman can be a mother. And God has given special privilege to a mother. The Prophet taught us that heaven lies at the feet of mothers. But no matter what a man does he can never be a mother. So why is that not unfair?

When asked who is most deserving of our kind treatment? The Prophet replied ‘your mother’ three times before saying ‘your father’ only once. Isn’t that sexist? No matter what a man does he will never be able to have the status of a mother.

And yet even when God honors us with something uniquely feminine, we are too busy trying to find our worth in reference to men, to value it—or even notice. We too have accepted men as the standard; so anything uniquely feminine is, by definition, inferior. Being sensitive is an insult, becoming a mother—a degradation. In the battle between stoic rationality (considered masculine) and self-less compassion (considered feminine), rationality reigns supreme.

As soon as we accept that everything a man has and does is better, all that follows is just a knee jerk reaction: if men have it—we want it too. If men pray in the front rows, we assume this is better, so we want to pray in the front rows too. If men lead prayer, we assume the imam is closer to God, so we want to lead prayer too. Somewhere along the line we’ve accepted the notion that having a position of worldly leadership is some indication of one’s position with God.

A Muslim woman does not need to degrade herself in this way. She has God as a standard. She has God to give her value; she doesn’t need a man.

In fact, in our crusade to follow men, we, as women, never even stopped to examine the possibility that what we have is better for us. In some cases we even gave up what was higher only to be like men.

Fifty years ago, society told us that men were superior because they left the home to work in factories. We were mothers. And yet, we were told that it was women’s liberation to abandon the raising of another human being in order to work on a machine. We accepted that working in a factory was superior to raising the foundation of society—just because a man did it.

Then after working, we were expected to be superhuman—the perfect mother, the perfect wife, the perfect homemaker—and have the perfect career. And while there is nothing wrong, by definition, with a woman having a career, we soon came to realize what we had sacrificed by blindly mimicking men. We watched as our children became strangers and soon recognized the privilege we’d given up.

And so only now—given the choice—women in the West are choosing to stay home to raise their children. According to the United States Department of Agriculture, only 31 percent of mothers with babies, and 18 percent of mothers with two or more children, are working full-time. And of those working mothers, a survey conducted by Parenting Magazine in 2000, found that 93% of them say they would rather be home with their kids, but are compelled to work due to ‘financial obligations’. These ‘obligations’ are imposed on women by the gender sameness of the modern West, and removed from women by the gender distinctiveness of Islam.

It took women in the West almost a century of experimentation to realize a privilege given to Muslim women 1400 years ago.

Given my privilege as a woman, I only degrade myself by trying to be something I’m not—and in all honesty—don’t want to be: a man. As women, we will never reach true liberation until we stop trying to mimic men, and value the beauty in our own God-given distinctiveness.

If given a choice between stoic justice and compassion, I choose compassion. And if given a choice between worldly leadership and heaven at my feet—I choose heaven.


Yasmin Mogahed is currently a graduate student in Journalism/Mass Communications at the University of Wisconsin-Madison and working as a free lance writer.

March 24, 2005

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Gary Rogers